Thursday, April 17, 2014

6:13 AM - No comments

Cinta Budi dan Ginjalnya (Sebuah Cerpen)

Oleh: Allan Cipta

Koran pagi dilempar di depan rumah komplek perumahan mewah. Budi sang loper koran sambil memacu sepeda sudah sering dikejar anjing penjaga rumah, dia sudah 3 kali disuntik rabies akibat infeksi digigit anjing galak.

Budi berperawakan kurus tinggi namun tergolong lumayan tampan dari segi wajah karena Ayahnya adalah mantan cover boy majalah Trubus, namun nasib membawa keluarganya pada kebangkrutan. Kebangkrutan ini terjadi karena ibunya terlalu sering berjudi Poker di Facebook.

Budi putus sekolah saat SMA kelas 1, dan sekarang hanya menjadi loper koran. Budi ngekos di ibukota, sambil sesekali mengirim uang pada orang tuanya di kampung.

Seperti pagi-pagi biasanya, Budi kembali “berdinas”, namun kali ini dia merasa sedikit lelah dan memutuskan istirahat di terminal bus antar kota. Kerongkongannya terasa haus karena air kendi di kamar kosnya habis dan tak sempat memasak air karena gas elpijinya juga sedang habis.

Budi lalu masuk ke warteg “Bahagia”.

“Es jeruk satu, Bu!” ucap Budi sambil mengambil simpanan uang yang ada di kantong kecil di kalungnya yang berbentuk seperti jimat di film-film Suzana.

“Ini mas es jeruknya,” ucap gadis bersenyum Pepsodent sambil meletakkan gelas ke depan meja.
Budi terpana…

Tiba-tiba ada lagu “Ada Cinta” milik Smash melantun. Budi semakin melayang jatuh cinta pada pandangan pertama. Ternyata lagu tadi hanyalah ringtone tukang bangunan yang sedang makan pisang goreng di warteg itu.

Tangan Budi merayapi gelas es jeruk yang ada di depannya, matanya tak lepas dari gadis penjaga warteg. Budi menyembur kepanasan, rupanya tanpa sengaja tangannya mengantarkan kopi panas milik sopir angkot yang duduk di sebelahnya ke mulutnya.

Sejak saat itu, Budi jadi jatuh hati pada si gadis penjaga warteg. Setiap hari, Budi menebar modus dengan mampir ke warteg “Bahagia”. Budi memberanikan diri untuk memperkenalkan diri, dan ternyata disambut hangat oleh gadis yang ternyata bernama Susi itu.

Budi dan Susi semakin akrab, mereka berdua sering nongkrong setiap malam minggu di taman kota. Setiap habis memegang tangan Susi, Budi tak mencuci tangannya untuk seminggu ke depan. Budi bahkan rela cebok dengan hanya satu tangan, agar tangan satunya tetap harum tangan Susi.

Cinta membawa efek positif. Budi semakin rajin bekerja, loper koran yang biasanya memakan waktu 3 jam kini bisa diselesaikan 15 menit saja. Budi memacu sepedanya seperti kecepatan peluru, karena makin cepat ia selesai bekerja, makin panjang juga waktunya berkencan bersama Susi.

Kedua insan semakin dimabuk cinta, setiap hari Budi mengirimi Susi puisi. Beberapa kali puisi ini dikirim Susi ke majalah Gaul, dan beberapa kali juga dimuat di majalah itu. Susi mendapat banyak hadiah dari puisi Budi yang ia kirim ke redaksi berbagai majalah.

Sore itu Budi dan Susi sedang mojok di bawah pohon di taman kota. Keduanya baru saja berkeliling kota dengan sepeda tua Budi, walaupun sempat putus rantai 13 kali, namun keduanya tetap bahagia.

“Mas, maaf ya sebelumnya, tapi aku mau ngomong ni.” Ucap Susi sambil mengulum bibir sok manis

“ya ngomong aja dek.” Budi menjawab sambil mengerutkan dahi ala SBY.

“eh gini, keluargaku ditawari pemerintah untuk ditransmigrasi ke Sorong”

“Hah?” Budi ternganga

“Iya, disana kami mau dikasih ladang gandum 2 hektar dan dijanjikan kehidupan yang lebih layak daripada disini.”

Mendengar itu, Budi jadi murung dan merasa tak siap berpisah dengan Susi, cinta pertamanya. Susi akhirnya pergi meninggalkan Budi dan hanya menitipkan alamat barunya di Sorong. Budi terpukul karena ini.

Budi jadi jarang makan karena rindunya semakin bertumpuk pada Susi. Pekerjaan loper korannya semakin terlantar dan sepeda kesayangannya sudah diselimuti sarang lebah yang sudah bisa dipanen madunya.

Suatu pagi, Budi kedatangan surat yang ternyata dari Susi. Saking bahagianya, Budi mencium tukang pos yang langsung dibalas tabokan si tukang pos, dengan penuh sukacita Budi membuka amplop surat itu.

“Mas, ternyata pemerintah bohong. kami tidak diberi ladang gandum yang seperti mereka janjiin. Tapi tenang, kami akhirnya bisa tetap melanjutkan hidup. Ada juragan angkot di Sorong yang mau menikahi aku. Katanya mau ngejadiin aku istri keempatnya. Maaf ya mas, sebaiknya kita lupain aja cinta kita. Kami akan menikah seminggu lagi. Susi.”

Deeer… Budi lunglai dan surat Susi jatuh dari tangannya. Tiba-tiba ada hujan membasahi kepalanya. Budi makin mellow, rupanya itu adalah air bekas cucian baju yang dijatuhkan tetangganya dari lantai 2.

Budi semakin tenggelam dalam keputusasaan. Pernah ia mencoba bunuh diri dengan cara merokok di samping tabung gas elpiji, namun ternyata tabung itu sudah kosong karena Budi sudah tak pernah lagi mengurusi dapur rumahnya. Ibu kos sudah menempelkan papan “Disewakan Kos” di depan kamar Budi yang sudah ditunggak 2 bulan.

Tiga hari jelang pernikahan Susi, Budi yang makin kurus tak sengaja menonton Kuch Kuch Hota Hai yang sedang ditonton tetangganya. Melihat Shahrukh Khan yang bisa bersatu dengan Kajol walau banyak rintangan, Budi jadi terinspirasi dan timbul ide untuk menyusul Susi ke Sorong. Budi langsung berlari ke pasar loak untuk menjual sepedanya. Budi mencari ongkos, namun uang jual sepeda hanyalah 35.000 Rupiah. Setidaknya butuh 1.965.000 Rupiah lagi agar bisa sampai ke Sorong.

Budi pun akhirnya menjual ginjalnya. Tertinggal waktu sehari lagi. Namun ia akhirnya bisa berangkat. Malang bagi Budi, ketika transit di Makassar, pesawatnya mengalami delay sehari. Budi menginap di bandara, dan hanya makan seadanya.

Tibalah Budi di Sorong. Dengan bekal alamat dari Susi yang diberikan tempo hari, Budi masih berharap. Sesampainya disana, janur kuning sudah melengkung, pelaminan sudah dibongkar, meja pesta sudah habis makanannya, dan ranjang sudah berderit. Budi terlambat, Susi dan si juragan angkot sudah berbulan madu ke Monas.

The End
»»  Selanjutnya...

Saturday, March 29, 2014

Ngapain Menghafal?

Di istirahat siang saat gue masih SMA, gue berdiri di samping pagar sekolah nungguin pesanan batagor. Saat itu gue lagi sendirian. Kebiasaan kalo lagi sendirian biasanya gue manfaatin buat merenung. Gue belajar dari SD sampe saat itu kelas 12 SMA hampir 12 tahun, apa yang udah gue dapat selama itu.

Gue ngeflashback lagi, dari buta huruf jadi bisa baca. Dari gak bisa ngitung jadi bisa, dan banyak kelebihan lainnya. Lalu gue teringat pelajaran kelas 10 SMA, Sosiologi. Yang gue tangkep, kok gue belajar sebatas pengertian dari istilah di sosiologi doang sih, gak pernah diajarin bersosialisasi yang baik.

Gue hafal apa itu “sosialisasi”, saat ujian. Setelah ujian juga lupa lagi. Hafal juga buat apa? Gak mungkin kan, lagi jalan nunggu bis terus ada yang nanya, “Mas, apa itu sosialisasi?”

Itu satu contoh mata pelajaran. Gimana dengan mata pelajaran lain yang menuntut hafalan saat ujian.

Jadi kenapa kita menghafal? Kenapa menghafal kalo ada buku, google, dan teknologi lainnya. Sistem pendidikannya yang salah?

Gue malah lebih suka berdiskusi dalam proses pembelajaran. Disitu ada proses memberi dan menerima. Ada kebanggaan ketika kita “banyak bicara”,  ada pembelajaran bagaimana menghargai pendapat orang lain, dan ada masalah yang bisa dipecahkan secara bersama-sama.


Andai gue jadi MENTERI PENDIDIKAN,  gue akan buang sistem menghafal  dalam ujian, kita pake pertanyaan, “Bagaimana pendapat anda ……..” Saatnya pendidik menghargai pendapat didikannya.
»»  Selanjutnya...

Saturday, March 8, 2014

6:47 PM - No comments

Mahasiswa, Makhluk Tuhan Paling Idealis

Gak terasa udah enam bulan meninggalkan gelar ‘mahasiswa’. Gue rindu dengan rutinitas pergi ke kampus, kejar-kejaran dengan tugas, diskusi, nongkrong di kantin, dan tentu saja momen ngecengin cewek-cewek di kampus.

Mahasiswa itu makhluk Tuhan paling idealis, makanya gue suka. Gue ngalamin sendiri ketika gue melaksanakan Kerja Praktek. Ini harus begini, dan itu harus begitu. Sayangnya keadaan di lapangan tak selamanya sama dengan textbook kuliah. Ada beberapa hal yang memang sudah dari dulunya begitu, dan perubahan akan hanya ‘nambahin kerjaan aja’.

Well, Negara kita, demokrasi khususnya adalah produk dari idealisme mahasiswa.  Demonstrasi besar-besaran di seluruh Indonesia di tahun 1998 yang sebagian besar dilakukan mahasiswa, terbukti mampu merubah keadaan politik Tanah Air.  Walaupun demokrasi sekarang gak terlalu memperbaiki nasib Indonesia, tapi setidaknya kita berada di rel yang tepat meski dalam kecepatan yang lamban.

Gue jadi teringat kata-katanya Sudjiwo Tejo, “Demokrasi itu klenik”. Yah, menurut dalang nyentrik ini bagaimana kita mempercayakan masa depan ‘Endonesa’ ini pada pilihan dari masyarakat yang rating televisi tertingginya adalah tontonan tak bermutu. Acara joget-joget dan infotainment yang bertaburan menunjukan bahwa masyarakat kita gak cukup terdidik untuk memilih.

Dan seperti kata Pandji Pragiwaksono, ada dua golongan pemuda. Satu yang menuntut perubahan, dan yang satu lagi adalah yang melakukan perubahan.

I'm Starting With The Man In
The Mirror
I'm Asking Him To Change
His Ways
And No Message Could Have
Been Any Clearer
If You Wanna Make The World
A Better Place

Penggalan lirik di atas adalah dari lagu Michael Jackson ‘Man in the Mirror’. Kalau kita mau merubah dunia, ya harus dimulai dari diri kita sendiri. Misalnya lo adalah seorang mahasiswa, mulailah dari hal simpel seperti melawan rasa kantuk ketika menerima pelajaran kelas. Kalo lo tidur, ya lo gak ada bedanya dengan tukang tidur di DPR sana yang sering lo hujat.


Hidup Mahasiswa!
»»  Selanjutnya...

Wednesday, January 15, 2014

Kimia Itu Sulap

Kalo pas SMA, Kimia itu belajar apa sih? Pasti ngapalin tabel periodik. Nyusun reaksi kimia sama ngitung larutan ini itu. Ngebosenin pasti kan.

Gue kasih tau rahasia, Kimia gak selalu membosankan. Kimia adalah sulap. Gak percaya? Reaksi kimia yang biasa kita lihat itu terlalu biasa. Beberapa reaksi kimia di bawah ini dapat mengejutkan bagi lo semua. 




Pembakaran Merkuri II Tiosianat

Dekomposisi Hidrogen Peroksida dengan katalis



Timah putih berubah jadi timah abu-abu ketika didinginkan di bawah 13 derajat Celcius

Lithium pas dibakar


Amonium dikromat pas dibakar

Bisa ular ketemu darah


Darah bereaksi dengan Hidrogen Peroksida

Kembang api Iodin dan Alumunium


Dehidrasi gula pada asam sulfat

Reaksi merkuri (raksa) dengan alumunium


Kristalisasi Sodium Asetat

sumber gambar: all-that-is-interesting.com

»»  Selanjutnya...

Monday, January 6, 2014

4:15 AM - No comments

Jangan Minta Diringankan, Tapi Mintalah Supaya Dikuatkan

Inspirasi bisa datang darimana saja. Di tengah menurunnya kualitas tayangan televisi kita, ada satu iklan yang sangat menarik. Biskuat menduetkan pasangan ibu dan anak di iklan terbarunya, si ibu adalah seorang pelari. Dia pun mengajari anaknya berlari, dan menantangnya beradu lomba lari. Pada awalnya si anak selalu kalah.


Tapi disinilah letak pesan moral iklan ini. Si ibu tidak mengendurkan sedikit pun larinya, ia lari sekuat tenaga dan berkali-kali mengalahkan anaknya, kejam memang. Namun pada akhirnya si anak mampu mengalahkan sang ibu, saat itulah ibunya meraih kemenangan besar.



Manis banget iklannya, mengajarkan kita untuk tidak meminta Tuhan mengendurkan tekanan atas masalah hidup kita, tapi meminta agar kita ditambah kekuatan untuk mengatasinya. Kenapa kita gak boleh minta dijauhkan dari masalah/cobaan/tekanan? Sebenarnya bukan gak boleh. Tanpa masalah hidup kita akan cenderung statis, tidak berubah menjadi orang yang lebih baik.

Tahukah anda siapa Stephen Hawking? Dia adalah kosmolog (Ilmu yang mempelajari asal-usul alam semesta) asal Inggris. Pada usia yang masih muda dia divonis menderita penyakit yang dapat melumpuhkan semua saraf geraknya (amyotrophic lateral sclerosis (ALS)). Saat itu ia tengah mengerjakan disertasi menuju gelar doktornya. Sang Ayah merasa hidup anaknya tak akan lama lagi, jadi ia menemui dosen pembimbing Hawking untuk meminta agar supervisi atas disertasi Hawking dipermudah (tanpa sepengetahuan Hawking). 

Profesor Hawking
Dennis Sciama yang ketika itu menjadi dosen pembimbing Hawking menolak permintaan Ayahnya karena hal itu akan menyalahi etika. Hawking nyaris lumpuh ketika mengerjakan disertasinya. Ia ditantang Sciama untuk membuat sebuah karya baru, murni dari dirinya sendiri. Di tengah kebuntuan menemukan judul, Hawking bertemu dengan matematikawan brilian, Roger Penrose.

Roger Penrose
Ia dengan bantuan topologi Penrose berhasil menemukan teori yang mendukung Teori Big Bang. Hawking menemukan sebab kenapa Singularitas bisa terjadi. Masterpiece ini tak hanya berhasil mengantarkan Hawking menjadi menjadi Doktor, tapi juga mendapat gelar professor Lucasian di Universitas Cambridge. Posisi yang dulu hanya bisa dipegang orang sepintar Sir Isaac Newton.

Apa poinnya? Hawking berhasil mengatasi masalah fisiknya. Saat ini, semua organ tubuhnya tidak ada yang bisa digerakkan. Hanya organ dalam dan otaknya yang tak tersentuh dari penyakit ini. Andai ia tidak ditantang oleh dosen pembimbingnya, mungkin disertasinya akan biasa-biasa saja. Namanya juga tak akan dikenal oleh orang banyak.

Masalah adalah sesuatu yang absolut untuk dihadapi seorang manusia. Tugas kita adalah mengatasinya, karena semakin kita terbiasa dihantam problema, kualitas hidup kita akan lebih baik. 

Semakin tinggi pohon, semakin kencang pula angin yang bertiup.

Karena itulah dalam doa gue gak pernah minta diringankan beban, tapi gue minta dikuatkan supaya bisa mengangkat beban yang telah disiapkan oleh Tuhan.

»»  Selanjutnya...

Friday, December 27, 2013

Were Humans Worth To Be Saved By Kal El and Autobots?

Krypton had its chance – Kal El

Kal is being bullied
Sebuah perjalanan panjang bagi Kal El di film Man Of Steel menemukan jati dirinya setelah terombang-ambing selama 33 tahun tanpa mengetahui identitas aslinya. Kal El dikirim ayahnya, Jor El ke Bumi, agar bisa selamat dari kiamat yang terjadi di planetnya, Krypton. Di Bumi, pasangan Jonathan dan Martha Kent mengadopsinya menjadi anak, dan memberinya identitas dengan nama Clark Kent.

Sejak kecil, dengan kekuatan luar biasanya Kal harus menahan diri menghadapi berbagai orang yang memperlakukannya sebagai ‘freak’. Sejak usia sekolah, Kal seolah terasingkan, dibully, bahkan hingga dewasa. Ia mampu melawan, namun tak diperbolehkan ayahnya untuk melawan.

Jonathan takut Bumi akan panik mengetahui ada orang dengan kemampuan sedemikian luar biasa. Terlebih Kal berasal dari planet lain, kenyataan yang mungkin akan berat diterima manusia bahwa mereka tak sendiri di jagat semesta ini.

Setelah ia berhasil menemukan asalnya, Kal kedatangan Jenderal Zod. Seorang ksatria Krypton yang ingin membangun kembali Krypton di Bumi. Zod mengaktifkan mesin terraforming, mesin yang akan menstruktur ulang Bumi, hingga menjadi tempat yang nyaman bagi Kriptonian.

Tada! He Picks Humans Over His Own Kind
Apa tindakan Kal? Dengan heroik Kal membela manusia, ras yang selama 33 tahun memperlakukannya dengan kasar. Mungkin memang Kal sudah terlanjur cinta dengan manusia, terutama kedua orang tua angkatnya. Namun bilakah kita yang berada di posisi Kal, maukah kita melawan ras kita sendiri, untuk membela ras lain?

Kita tinjau dari sudut pandang Optimus Prime, leader of Autobots yang tak segan merelakan nyawanya untuk juga menghadapi rasnya sendiri, Decepticons.

Ironhide: Why are we fighting to save the humans? They're a primitive and violent race.

Optimus Prime: Were we so different? They're a young species. They have much to learn. But I've seen goodness in them. Freedom is the right of all sentient beings.

Really Loves Humans
Optimus meyakini kita punya hak untuk menentukan nasibnya sendiri, kita adalah spesies muda yang masih belajar. Belum ada satu abad kita bisa menginjak bulan, satelit Bumi. 

Di sisi lain, Ironhide has the point. Manusia bertanggung jawab atas naiknya suhu Bumi, hampir punahnya binatang langka, gundulnya hutan. Binatang dan tumbuhan adalah saksi betapa merusaknya kita di Bumi ini, bahkan ini sudah diramalkan di Al-Quran. Belum lagi kita gemar saling melukai, perang terjadi dengan memakan jutaan korban dan masih terjadi hingga detik ini.

The people of Earth are different from us, it's true, but ultimately I believe that is a good thing. They won't necessarily make the same mistakes we did, but if you guide them, Kal, if you give them hope. – Jor El

Kembali ke Kal, ayahnya meyakinkannya untuk memihak manusia, meyakini masih ada kebaikan di dalam diri manusia. Kriptonian adalah cerminan manusia, mereka berkembang menjadi ras yang merusak sampai mengakibatkan planetnya sendiri menemui ajal.

Lihat film Avatar-nya James Cameron, alkisah di sebuah planet lain Pandora terdapat sumber energi yang terletak di bawah pohon yang dijadikan tempat keramat penduduk setempat, ras Na’Vi. Jake Sully adalah manusia yang diutus untuk menyelidiki ras ini. Lambat laun, Sully sadar ada yang salah dengan manusia yang ingin mengeksploitasi Pandora. Sully akhirnya menjadi pengkhianat seperti yang dilakukan Kal dan Autobots. Ia berperang mengangkat senjata menghadapi manusia.

Jake Sully Betrayed Humans
Kasus manusia dalam film Avatar, setara dengan Decepticons dan Jenderal Zod. Menganggu ras lain. Antagonis. Kal atau Autobots mungkin tak punya obligasi untuk membela kaum pribumi, namun mereka melakukannya karena menganggap rasnya sendiri pantas untuk dilawan, meskipun ras yang dibelanya sebenarnya gak pantes-pantes banget buat dibela.


Tak ada bedanya manusia (baik dalam film Avatar atau Man Of Steel) dengan Decepticons dan Kriptonian yang menginvasinya. Kita sama-sama ras kasar, gemar membunuh sesama maupun ras lain yang tak lebih kuat dari kita. Korban sejatinya adalah Kal dan Autobots.
»»  Selanjutnya...