Wednesday, November 4, 2015

Kenangan Bersama BOLA dan SOCCER

Sudah lama rasanya tidak menulis lagi untuk blog ini. Mungkin sibuk sendiri, atau mungkin memang lagi males nulis. Beberapa minggu yang lalu gue membaca tweet seorang penulis BOLA, tabloid olahraga yang dulu terbit dua minggu sekali, namun sempat berubah jadi harian. BOLA per 1 November 2015 resmi tidak menerbitkan lagi surat kabarnya dalam bentuk harian, internet dengan kejam memangkas oplah penjualannya sehingga kini BOLA hanya akan terbit seminggu sekali. Hal yang sama terjadi pada SOCCER, tabloid sepakbola yang juga lebih dulu “meniup peluit panjang” beberapa bulan yang lalu.

Kedua tabloid itu, baik BOLA maupun SOCCER sama-sama mempunyai nilai sejarah dan kenangan dalam hidup gue. Gue membaca SOCCER sejak SD sampai SMP. Bonus poster-nya jadi bahan koleksi gue, terutama kalo yang diposterkan adalah pemain-pemain AS ROMA. Bahkan jaman SMP gue sempat berjualan poster-poster dari SOCCER di sekolah, yang lucunya hasil penjualan poster gue pakai lagi buat beli SOCCER edisi selanjutnya.

Sekitar kelas 2 SMP, gue berpindah hati ke BOLA hingga masa kuliah. BOLA punya penulis-penulis yang menurut gue lebih baik dalam hal kedalaman analisa yang dipaparkan. Terkadang kolom-kolom Ian Situmorang, Weshley Hutagalung, dan Arief Kurniawan, serta favorit saya Eko Widodo adalah bacaan yang cari setiap pekannya. Hal-hal yang menarik dari tulisan BOLA adalah ketika mereka menceritakan perjalanan liputan ke luar negeri. Biasanya, gue akan belajar budaya baru dari tulisan-tulisan redaksi BOLA.

Kenangan membeli tabloid BOLA adalah hal yang tak terlupakan, biasanya setiap hari Senin gue akan ke tempat kios Koran yang jaraknya sekitar 1 KM dari rumah gue, setiap pukul 4 sore dengan berjalan kaki. Biasanya kalo agen korannya telat nganterin, gue akan setia nungguin di kios itu. Ada perasaan bahagia namun akan terdengar aneh bagi awam ketika gue mencium aroma kertas Koran baru yang gue beli dengan menyisihkan uang jajan sekolah tersebut.

Biasanya BOLA akan gue letakkan di ruang tamu, tempat gue membaca. Gue akan marah kalo ada yang baca tapi bikin berantakan atau lusuh korannya. Saat akan pergi ke sekolah biasanya akan gue masukan ke dalam lemari buku, lalu dikeluarkan lagi setelah pulang sekolah. Membeli Koran hampir 2 kali seminggu selama bertahun-tahun membuat rumah gue penuh dengan Koran bekas. Biasanya Ibu gue akan menjual Koran bekas itu secara kiloan, terkadang gue gak rela, dan bahkan sampai marah kalo sampai koleksiku tau-tau hilang setelah pulang sekolah.


Kini SOCCER dan BOLA sudah tak jadi pilihan utama insan olahraga dalam mencari informasi, gue pun sudah tidak berlangganan lagi. Keterbatasan waktu, dan melimpahnya informasi olahraga hanya dengan swipe-scroll screen smartphone membuat keduanya mati pelan-pelan. Akhir kata, terimakasih BOLA dan SOCCER telah mewarnai masa-masa kecilku dengan wawasan. 
»»  Selanjutnya...

Monday, July 6, 2015

6:48 PM - No comments

Terus Gimana?

Kenapa manusia dikasih dua telinga? Mungkin kalo satu, jadinya gak balance. Aneh. Atau mungkin supaya kita mendengar dari dua sisi yang berbeda. Kodratnya manusia itu kalo dikasih masalah akan langsung menentukan sikap. Naluri akan selalu nge-judge. Mudah berasumsi. Padahal kalo kita mendengar masalah, itu baru satu versi. 

Gimana dengan versi yang lain, dari sudut pandang lain, dari kepentingan lain. Semua manusia akan selalu menginginkan yang terbaik bagi dirinya sendiri. Yang sering jadi masalah adalah, terkadang kita harus mengorbankan, atau paling tidak ada yang merasa dikorbankan ketika mencapai keinginan itu. Seperti karakter-karakter dalam Game Of Thrones yang punya kepentingan masing-masing. Tidak ada yang jahat, atau baik. Semuanya abu-abu.

Jadi kalo ketemu masalah, dan sudah memahami dari dua sisi, biasanya kita akan nanya balik, “Terus gimana?”

»»  Selanjutnya...

Thursday, March 19, 2015

1:41 AM - No comments

Whiplash: Si Guru Brengsek

Terrence's twisting quote

SPOILER ALERT!!!! 

Andrew (Miles Teller) adalah pemuda ambisius yang sangat bersungguh-sungguh dengan apa yang dia tekuni. Bertekad menjadi drummer band jazz elite di universitasnya. Tangan yang berdarah, bahkan sampai putus dengan kekasihnya (Melissa Benoist) adalah bukti ambisi Andrew menyingkirkan halangan yang memisahkan antara dia dengan mimpinya.

Karakter keras ini beradu dengan Terrence (J. K. Simmons), mentor Andrew di grup band jazz ini. Perfeksionis, dan tak segan membawa-bawa masalah pribadi muridnya untuk menjadi bahan makian. Terrence tak punya limit dalam mengeksploitasi bakat muridnya, dia ingin maestro besar lahir dari tempaannya.

Inilah Whiplash, gue semula mengira bahwa ini adalah perjalanan kesuksesan Andrew yang sempat bergulat fisik dengan Terrence yang seenaknya sendiri. Bukan pula yang berakhir dengan ending manis dimana Andrew akan berterimakasih pada Terrence yang telah membuat porsi latihan pemuda 19 tahun ini jadi gila-gilaan sampai dia kemudian menjadi drummer hebat.

Masih terngiang-ngiang seringai Terrence saat “mengerjai” Andrew di panggung publik untuk menghancurkan karir Andrew selama-lamanya. Gue terhipnotis mengira Terrence adalah guru yang baik namun memakai cara yang ekstrem untuk menempa anak didiknya ketika ia berdamai dengan Andrew sesaat sebelum mengerjai si anak nekat.

Akting J.K. Simmons yang apik membuat kita seakan mau melempar benda terdekat ke layar kaca. Mungkin karena itu dia bisa menang Oscar.


Akhir kata, Whiplash adalah film yang merubah pandangan gue. Bahwa tak selamanya, guru yang keras itu baik, bisa jadi dia memang suka mengerjai muridnya. 
»»  Selanjutnya...

Monday, January 26, 2015

6:59 PM - No comments

Patah Hati Menurut Sains

Siapa sih manusia yang gak pernah patah hati? Pasti pernah semua kan. Ada orang bijak yang pernah bilang kalo patah hati akan merubah pandangan seseorang tentang cinta seumur hidupnya. Sekarang gimana kalo melihat patah hati dari kacamata sains.



Patah hati biasanya dianggap bersifat abstrak, berbeda dengan sakit fisik. Ketika seseorang mengalami sakit fisik, bagian dari otak bernama Anterior Cingulate Cortex akan mengirimkan sinyal sakit. Bagian otak ini mengenali rasa sakit fisik seperti panas, atau benturan. Ternyata, ketika kita merasakan patah hati bagian otak ini juga akan mengirimkan sinyal sakit yang sama. Jadi sebenarnya, sakit fisik dan patah hati adalah sama nyatanya.

Ketika merasakan patah hati, seseorang akan merasakan kesepian. Dirunut dari sejarah peradaban manusia sejak Nabi Adam, kita sudah terbiasa hidup dengan berpasang-pasangan. Dengan demikian otak kita akan mengenali “rasa sakit” ketika pasangan kita menghilang.

Mengobatinya

Jika sakit fisik bisa diobati dengan dibalut, maka bagaimana dengan patah hati. Ternyata ada obatnya. Ketika seseorang patah hati, dia akan merasa kesepian. Studi membuktikan bahwa berkumpul dengan teman-teman dekat akan mengurangi rasa sakit yang diakibatkan oleh patah hati. Ini sesuai dengan kodrat manusia yang memang makhluk sosial. Jadi, kalo lagi patah hati, tau kan harus ngapain.
»»  Selanjutnya...

Sunday, December 7, 2014

8:37 PM - No comments

Crossover The Flash dan Arrow


Gue bukan fanboy yang terspesifik ke Marvel atau DC Comics, gue menikmati keduanya. Di layar lebar, Marvel yang kita tau sudah tak terbendung lagi. DC mencoba bangkit dengan Man of Steel, lalu puncaknya akan ada Batman vs Superman yang dirilis 2016 nanti. Di versi animasi, Justice League berpusat pada dua tokoh, Batman dan Superman. The brain and muscle. Kita menantikan keduanya berkolaborasi.

Untungnya kita tak perlu lama menunggu kolaborasi the brain and muscle di universe DC. The CW, menghadirkannya lewat crossover serial Arrow dan The Flash. Oliver Queen (The Arrow) yang merupakan manusia biasa namun memiliki skill panah sekelas atlit Olimpiade dan kelihaian dalam mengatur strategi dalam bertempur mengingatkan kita pada sosok Batman. Di sisi lain, ada Barry Allen The Flash, the fastest man alive, rada-rada mirip Superman.

Walaupun agak sulit diterima logika karena dalam universe masing-masing, dua serial ini mengambil latar belakang yang berbeda. Arrow, yang realistis. Sedangkan The Flash, berada di dunia yang percaya akan adanya kekuatan super. Namun, kolaborasi keduanya cukup memuaskan, terlebih duel keduanya yang menurut gue, pas banget.

Hal lain yang menarik adalah sesi practice, dimana Oliver mengajari Barry untuk mengenali lokasi tempurnya sebelum beraksi. Hal menunjukan bahwa pengalaman juga penting disamping kekuatan super.

Crossover ini dibagi 2 episode. Satu untuk The Flash, satu untuk Arrow. Di Central City kita akan disuguhi pertarungan kedua jagoan ini, lalu di Starling City keduanya akan berkolaborasi mengharapi Captain Boomerang. Meskipun ada hal menggelitik seperti, Barry bisa dengan mudah mengalahkan Captain Boomerang yang hanya manusia biasa, meski tanpa bantuan Oliver.


Mungkin di season selanjutnya akan ada crossover yang lebih menantang lagi untuk keduanya. I’m so exciting.
»»  Selanjutnya...