Monday, August 25, 2014

9:41 PM - No comments

Mereka yang Berjasa Menciptakan Masalah



Alkisah Habil dan Kabil, dua anak Nabi Adam yang berantem gara-gara rebutan pasangan hidup. Gue lupa siapa yang bunuh siapa, tapi intinya masalah pertama di muka bumi ini adalah karena cinta. Iya, cinta. Eh, bentar-bentar itu cinta atau nafsu sih?

Telenovela di atas terus berlanjut hingga saat ini. Lihat aja sinetron kita, dua insan saling jatuh cinta, lalu ada orang ketiga. Dari episode pertama sampai 1500 yang jadi problem adalah cinta, gak aplikatif banget.

Lalu kita hidup di dunia nyata. Wah, ada setan yang lebih besar dari cinta ternyata. Siapa dia? Uang. Sebelum era uang, nabi Adam gak perlu repot-repot cari uang buat makan. Ini siapa yang nyiptain uang? Perlu dicari orangnya buat diadili. Apa mungkin dulu yang nyiptain uang sudah gak pusingkan lagi masalah cinta, jadi dia buat masalah baru, harta.

Pusinglah gue nyari siapa penemu uang, lalu gak sengaja hidupin TV dan ada kisruh-kisruh di MK (Makanan Kecil, eh Mahkamah Konstitusi). Satu bekas calon jawara yang katanya udah punya asset triliunan itu ngebet banget berkuasa, bertahta. Loh, kan dia punya uang. Apa mungkin karena dia sudah tak lagi pusingkan cinta dan harta dia jadi cari dimensi masalah baru, tahta.
»»  Selanjutnya...

Sunday, August 24, 2014

9:31 PM - No comments

Surat Terbuka Untuk Presiden Baru


Wahai Presiden kami yang baru. Ini adalah surat terbuka dari saya, seorang karyawan biasa yang bekerja di Padang. Keluarga saya tinggal di Palembang, pacar saya tinggal di Jakarta. Tadi pagi tak sengaja saya membaca berita di Yahoo! Yang isinya pemerintahan Bapak akan membangun jalur kereta cepat Jakarta-Bandung. Ya semacam shinkansen Jepang, di kemudian hari Jakarta-Bandung bisa ditempuh dalam waktu 37 menit.


Membaca berita ini saya merasa teriris pak. Bagaimana tidak, Jakarta-Bandung sudah punya jalur tol. Jarak 146 Km bisa ditempuh hanya dalam waktu 2 jam. Bapak bisa bayangkan kami yang berada di luar Jawa harus pusing memikirkan waktu mudik. Misalkan saya mau pulang ke Palembang, itu harus transit dulu ke Batam lalu ke Palembang. Pulang pergi sudah 2 juta lebih. Belum waktu transit yang bisa makan waktu 5 jam di bandara.


Kalau Bapak bangunkan juga kami jalur kereta cepat di Sumatera ini. Saya bisa pulang seminggu sekali. Saya bisa jenguk orang tua lebih sering. Okelah kalo Bapak bilang frekuensi penumpang Jakarta-Bandung tak sebanyak Padang-Palembang tapi kan kami juga bayar pajak, Pak. Bukankah sila kelima itu bunyinya, “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.


Saya pilih Bapak loh di Pilpres kemarin. Makanya saya buat surat ini supaya saya bisa pastikan pilihan saya gak salah. Saya baru kasih gambaran Sumatera, Bapak bisa bayangkan penderitaan saudara kita yang tinggal di Sulawesi, Kalimantan, dan Papua.


Salam.

»»  Selanjutnya...

Sunday, August 17, 2014

6:11 PM - No comments

Game Of "F*cking" Thrones

This article contains spoiler! If you haven’t watched it yet, don’t kid yourself

Kampreeet!!!

George R. R. Martin adalah penulis terkampret yang lahir di muka bumi ini. Setelah menamatkan episode 8 Season 4 Game Of Thrones gua mengutuk bapak dengan jenggot tebel itu. Karakter yang mulai gua sukai, Oberyn Martell dimatikan begitu aja dengan cara yang sangat ironis….



Haduhhh…

Ah, gua baru aja mulai ikhlas dengan kematian si Mr, Clean Eddard Stark, lalu anaknya Robb. Tapi Oberyn, demi apa…gua kesel abis.


Awas aja kalo dia berani matiin Tyrion Lannister. Banyak yang bakal bunuh diri kali. 
»»  Selanjutnya...

Monday, July 28, 2014

9:07 PM - 3 comments

Penulis yang Senewen

Premisnya adalah pusing gak dapet panggilan kerja. Oke, waktu itu gue pusing udah muter-muter sampai ke Pulau Jawa sekitar 3 bulan lebih mencari perusahaan yang mau menerima gue sebagai kulinya. Layaknya seorang pengangguran gue jadi sering buka Twitter, gue membaca sebuah tweet lowongan penulis freelance di sebuah portal berita sepakbola yang cukup dikenal karena akun twitter-nya sangat nyinyir. Suka ngatain klub-klub sepakbola. Tau kan pasti.

Iseng, gue kirim artikel contoh dan ternyata berlanjut ke masa trial yang lamanya sekitar satu minggu. Singkat kata singkat cerita gue di-hire dan dapet honor 1,5 juta+100 ribu (uang modem) setiap bulannya. Frekuensi nulisnya sungguh gila-gilaan, 10 artikel sehari.

Mekanismenya adalah, gue dikirim bahan berita yang harus diolah jadi artikel. FYI, semua artikelnya gak ada yang berbahasa Indonesia. Semuanya Inggris, atau kadang-kadang Spanyol dan Italia, mampus. Ternyata jadi penulis/wartawan itu capek banget. Apalagi kalo weekend, harus bangun pagi buat bikin ulasan pertandingan yang jumlahnya kadang 3-4 pertandingan.

Gue sempet senewen ketika dalam satu hari dikirim bahan berita yang isinya Special Feature mulu. Special Feature itu panjang, gak sependek prediksi atau ulasan pertandingan. Oh iya, gak ada hari libur ya. Sabtu-Minggu itu malah padet kerjaan. Peak-nya ya di hari Jumat. Karena rentang deadline yang deket-deketan, gue juga harus memperkirakan waktu ketika gue keluar rumah, karena kerjaan bisa datang tiba-tiba.

Salah satu yang bikin senewen lagi ya karena freelance makanya jarang keluar rumah, dan gak ada interaksi dengan orang lain. Penulis itu juga bebannya berat loh, terlebih karena kita manusia yang kadang tak luput dari kesalahan. Pernah gue secara fatal, salah menulis tuan rumah dari suatu pertandingan. Saat itu Liverpool yang jadi tuan rumah, malah Chelsea yang gue tulis jadi tuan rumah. Hasilnya, kena marah deh. Hehehe


Gak semuanya cerita pahit kok. Gue bangga banget ketika tulisan gue dibaca orang lain. Terkadang, 2/3 halaman utama portal itu berasal dari tulisan gue. Kadang gue bertanya-tanya, apa kerjaan penulis mereka yang lain yah. Gue mengakhiri kerja sebagai penulis ini setelah mendapat konfirmasi gue diterima kerja di sebuah perusahaan BUMN. Selama hampir dua bulan kerja, gue menghasilkan kurang lebih 500 tulisan. Keren kan….
»»  Selanjutnya...

Sunday, July 13, 2014

3:48 AM - No comments

Demokrasi, Cocok Gak Di Negara Kita?

“Demokrasi itu klenik,” – Sudjiwo Tedjo

Sumber: faktadandata.blogspot.com

Kira-kira begini penjelasan dalang nyentrik itu. Bagaimana mungkin kita mempercayakan nasib Negara kepada sekumpulan masyarakat yang rating televisi tertingginya adalah acara tak bermutu. Artinya rakyat kita belum cukup terdidik untuk dipukul rata dengan yang terdidik dalam menentukan nasib Negara.

Indonesia baru saja menyelesaikan pemilihan Presiden secara langsung untuk yang ketiga kalinya. Masyarakat Indonesia yang berjumlah lebih dari 200 juta (paling tidak itulah sensus Rhoma Irama) harus memilih antara Prabowo Subianto atau Joko Widodo untuk membenahi Ibu Pertiwi selama 5 tahun kedepan. Kisruh yang terjadi, karena kedua kubu saling menyatakan kemenangan berlandaskan Quick Count lembaga survey.

Bisa dibilang ini adalah pemilu Presiden tersengit di Republik ini. Keduanya punya massa fanatik yang jumlahnya berbeda tipis. Potensi keributan meletus setelah pengumuman resmi KPU tanggal 22 Juli nanti kini membayangi kita.

Teringat sebuah percakapan dengan seorang mantan kader partai di kantor gue beberapa waktu yang lalu. Selama ini gue beranggapan bahwa pemerintahan ala Khalifah tidak bisa diterapkan di Indonesia karena tak semua warga Negara Indonesia memeluk agama Islam. Ternyata anggapan gue salah, melalui penjelasannya gue baru tau kalo tak harus semua pemeluknya beragama Islam. Bahkan dijaman Rasullullah penduduk Madinah memiliki kepercayaan yang beragam.

Konsep demokrasi (jajak pendapat) ala Barat yang selama ini diterapkan memiliki konsep yaitu para voter harus memilih pilihan yang ada. Jika pilihan kita dinyatakan kalah voting, maka kita harus terima pilihan kita tidak dipakai. Hal ini berbeda dengan konsep Kekhalifahan yang bermusyawarah alih-alih jajak pendapat.

Contoh gini, kita menemukan sebuah masalah. Maka akan dikumpulkanlah sebuah majelis yang berisikan pemerintah, pemuka agama, ahli cendekiawan, dan perwakilan rakyat untuk duduk bersama mencari solusi. Dari forum musyawarah ini akan dihasilkan pilihan dan akhirnya keputusan yang disetujui bersama sebagai yang terbaik.

Model seperti ini sangat bagus menurut gue, karena tak akan ada oposisi yang lahir. Tak akan ada barisan sakit hati. Dan semakin sedikit pula intrik politik yang terjadi.

Satu contoh ssstem pemerintahan yang juga bagus dicontohkan oleh Negara Inggris. Inggris punya tiga elemen penting dalam pemerintahannya. Raja (saat ini Ratu), Perdana Menteri, dan pemuka agama. Raja sebagai simbol Negara yang dicintai seluruh rakyatnya. Perdana Menteri yang mengurusi langsung pemerintahan. Dan pemuka agama, dalam hal ini Paus yang dihormati. Ketiganya akan saling bekerja sama dalam sebuah keputusan yang akan diambil Negara. Indah, bukan?

Kita selalu bangga akan demokrasi yang dijalankan di Negara kita. Selama ini kita percaya demokrasi itu baik, karena kita ditanamkan ide bahwa demokrasi adalah yang paling benar bahkan sejak kita masih SD. Padahal, demokrasi sebenarnya tak cocok dengan Negara kita. Terlebih, sila keempat berbunyi, “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan, dalam permusyawaratan perwakilan.” Ingat, permusyawaratan, bukan jajak pendapat.


»»  Selanjutnya...

Sunday, June 22, 2014

3:18 AM - No comments

Mengapa Jokowi

Dulu gue adalah bagian pemuda-pemuda skeptis di Indonesia. Gue gak pernah percaya dengan politik, baik itu sistemnya, ataupun orang yang terlibat di dalamnya. Korupsi, main kotor, dan sebagainya membuat gue dulu percaya biarlah politik jadi mainan orang yang gak punya keterampilan di luar sana.

Tapi seiring waktu muncullah karakter-karakter politik yang seperti jadi The Avengers di dunia pengambil kebijakan ini. Sebut saja, Ahok, Ibu Risma, Ridwan Kamil, atau Jokowi. Mereka tak hanya merebut suara konstituennya, tapi juga merebut hatinya.

Dalam bukunya Berani Mengubah, Pandji Pragiwaksono mengungkapkan pentingnya politik bagi kehidupan kita. Jika disalagunakan, politik akan sangat berpengaruh pada kehidupan kita, secara langsung bahkan. Bagaimana jika sektor sepenting ini malah dimainkan oleh orang-orang jahat.

Gue termasuk orang yang mendukung Anies Baswedan untuk maju sebagai Presiden di konvensi Partai Demokrat kemarin. Pak Anies memang adalah seorang rektor, yang pemikirannya masih muda dan sangat kritis. Dalam debat konvensi, jawaban-jawabannya terbukti cerdas dibanding kandidat lainnya.


Sekarang kita dihadapkan pada dua pilihan, Jokowi atau Prabowo. Saya dengan lantang menyebut Jokowi. Bukan karena ia hobi blusukan, merakyat, sederhana atau lainnya. Tapi karena ketika gue memilihnya, gue gak pernah punya beban moral. Gue gak takut ditanya tentang masa lalu jagoan gue.



»»  Selanjutnya...