Thursday, August 11, 2016

Attitude dan Rio Haryanto

Di sore hari, bersama beberapa teman kantor, gue sering ngopi di kawasan Pecinan di Padang, kawasan Pondok namanya. Kopinya sebenarnya biasa saja, tapi ketika Koko (gue memanggilnya Koko karena yang jualan orang Chinese) si penjual kopi menanyakan pesanan, merespon maunya pelanggan, ada nilai tambah disitu. Attitude. Senyum. Mengakrabkan diri dengan pelanggan.



Berbeda mungkin dengan para pelayan pribumi, Koko mungkin tau dia tak hanya menjual kopi, karena kopi dimana-mana mudah dicari. Koko juga menawarkan kenyamanan berupa pelayanan yang ditampilkan dengan attitude yang baik. Hal yang mungkin sederhana, namun membuat pelanggan akan selalu teringat dan datang lagi untuk jadi pelanggan tetap.

Kita bangsa Indonesia, yang terkenal murah senyum mungkin sering lupa itu. Berbicara tentang bangsa Indonesia, menjelang 17 Agustus ini kita mendapat kado pahit berupa didepaknya Rio Haryanto dari tim Formula 1 Manor Racing. Rio tidak bisa melunasi hutang 7 juta Euro sebagai pay driver Manor. Alhasil, Rio harus finis dini. Hanya sempat berkarir setengah musim di F1 2016. Pahit, apalagi kalau tahu didepaknya karena masalah duit, bukan prestasi.

Mengaitkan Rio dengan attitude, rasanya cukup terkoneksi. Rio adalah pembalap yang low profile, murah senyum, jauh dari berita miring entertainment. Rio cuma dikenal hanya karena prestasinya di ajang balap mobil, bukan karena anak pengusaha terkenal, atau karena mengencani artis cantik. Namun rupanya, attitude baik Rio tak cukup untuk mendatangkan sponsor yang banyak.

Kisah Koko penjual kopi dan Rio berakhir berbeda walaupun punya modal yang sama, attitude yang baik.


Kita hanya bisa berharap, semoga ini bukan akhir dari karir Rio. Masih ada kesempatan di kemudian hari untuk mengukir sejarah lainnya. Tetap semangat Rio, kami bangga padamu.

Tuesday, July 26, 2016

Gak Baik

Sesuatu yang dipaksakan itu…. Gak baik
Sesuatu yang berlebihan itu… Gak baik
Kebohongan itu… Gak baik
Kebenaran itu… Gak selamanya baik

Andai Eddard “Ned” Stark enggak bohong tentang siapa orang tua asli Jon Snow, mungkin kehormatannya gak tercoreng karena punya anak haram (bastard). Mungkin istri Ned, Catelyn Stark gak akan cemburu dan benci Jon. Baik sih, untuk Ned, tapi jadi gak baik juga kalau Robert Baratheon tahu kalau Jon adalah anak Rhaegar Targaryen dan Lyanna Stark (adik Ned). Bisa-bisa Jon dibunuh, karena dia hasil buah cinta dari wanita yang dicintai Robert.

Baik gak baik itu relatif ya?

Terkadang biarpun kita merasa gak salah, mati-matian mau ngejelasin, mencari pembelaan diri. Syukur-syukur ada yang mau dengerin, lebih-lebih percaya, tapi kalau enggak? Ya, mungkin lebih baik begini saja.


Mungkin kalau begitu saja jadinya… Gak baik.

Wednesday, June 1, 2016

Game Of Thrones's Ending That I Want

Tulisan ini mengandung spoiler Game of Thrones sampai dengan season 6 episode 6.

 

SPOILER ALERT!

Sudah berapa kali kira-kira Game Of Thrones mematahkan ekspektasi kita? Tak terhitung kayaknya. Semakin jauh cerita berjalan, makin ribet kisahnya, subplotnya. Daenerys Targaeryen yang tak kunjung mendarat di King’s Landing. White Walkers yang tak kunjung turun ke selatan (baca: The Wall), atau Cersei Lannister yang belum mati juga. Tapi untungnya Jon Snow bisa hidup lagi.

Seiring dengan di-overlap-nya buku A Song of Ice and Fire oleh serial televisinya. Kita semakin penasaran tentang ending apa yang pantas untuk mega seri ini. Gue punya beberapa teori.

1.      Daenerys berhasil bernegosiasi dengan Greyjoys (entah itu Euron, Theon, atau Yara) untuk meminjam armada kapal milik Greyjoy. Yang menarik adalah maukah Daenerys mengikat aliansi ini dalam bentuk pernikahan. Melihat track record Dany yang pernah rela menikahi Hizdahr Zo Loraq untuk mendatangkan kedamaian di Meereen, sepertinya kita tahu jawabnya.


2.      Tyrion Lannister mencoba berkompromi dengan perang sipil di Meereen, jadi mungkin ketika Dany menaklukan Seven Kingdoms, Tyrion akan menjadi Lord of Slaver’s Bay. Penguasa Meereen, Yunkai, dan  Astapor.

3.      Jon Snow tak bisa menghindari takdirnya untuk akhirnya berhadapan dengan Night King. Mungkin akan dibantu Uncle Benjen dan Three Eyed Raven (Bran Stark). Yang menarik adalah kemampuan melihat masa lalu yang dimiliki Bran akan mengungkap siapa orang tua dari Jon. Bagaimana dengan Ramsay Bolton? Seperti kata Sansa Stark, The North remembers. Ramsay mungkin akan mati di season 6 ini.

4.      Bila memang nanti Dany berhasil merebut King’s Landing bagaimana dengan nasib Lannister Family? Mungkin mereka akan melarikan diri, menjauh dari semburan naga.
5.      Ser Jorah Mormont akan sembuh dari penyakit Greyscale-nya. Tapi tampaknya dia tak akan bertahan lama.

6.      Bagaimana dengan Petyr Baelish, otak dari hampir semua chaos yang terjadi di Seven Kingdoms selama event Game of Thrones. Entah bagaimana caranya, Petyr tidak boleh hidup. Terlalu baik untuk membiarkan Petyr bisa tenang-tenang saja keluar dari masalah dan tak mati di akhir cerita.

7.      Dorne bergejolak, Sand Snakes menguasai Dorne. Menarik melihat Dorne membantu Dany pada invasinya ke King’s Landing. Sand Snakes akan menjadi garda terdepan, mengincar kepala anggota keluarga Lannister.

8.      Arya Stark dengan kemampuan assassin akan kembali ke Seven Kingdoms untuk melengkapi daftar incarannya. Target utama: Walder Frey. Tentunya dia harus mengalahkan The Waif dulu.


Entah  sampai season berapa seri ini akan tamat, tapi mungkin sulit membayangkan akan seperti apa hidup ini tanpa penantian akan Game of Thrones lagi.

Wednesday, November 4, 2015

Kenangan Bersama BOLA dan SOCCER

Sudah lama rasanya tidak menulis lagi untuk blog ini. Mungkin sibuk sendiri, atau mungkin memang lagi males nulis. Beberapa minggu yang lalu gue membaca tweet seorang penulis BOLA, tabloid olahraga yang dulu terbit dua minggu sekali, namun sempat berubah jadi harian. BOLA per 1 November 2015 resmi tidak menerbitkan lagi surat kabarnya dalam bentuk harian, internet dengan kejam memangkas oplah penjualannya sehingga kini BOLA hanya akan terbit seminggu sekali. Hal yang sama terjadi pada SOCCER, tabloid sepakbola yang juga lebih dulu “meniup peluit panjang” beberapa bulan yang lalu.

Kedua tabloid itu, baik BOLA maupun SOCCER sama-sama mempunyai nilai sejarah dan kenangan dalam hidup gue. Gue membaca SOCCER sejak SD sampai SMP. Bonus poster-nya jadi bahan koleksi gue, terutama kalo yang diposterkan adalah pemain-pemain AS ROMA. Bahkan jaman SMP gue sempat berjualan poster-poster dari SOCCER di sekolah, yang lucunya hasil penjualan poster gue pakai lagi buat beli SOCCER edisi selanjutnya.

Sekitar kelas 2 SMP, gue berpindah hati ke BOLA hingga masa kuliah. BOLA punya penulis-penulis yang menurut gue lebih baik dalam hal kedalaman analisa yang dipaparkan. Terkadang kolom-kolom Ian Situmorang, Weshley Hutagalung, dan Arief Kurniawan, serta favorit saya Eko Widodo adalah bacaan yang cari setiap pekannya. Hal-hal yang menarik dari tulisan BOLA adalah ketika mereka menceritakan perjalanan liputan ke luar negeri. Biasanya, gue akan belajar budaya baru dari tulisan-tulisan redaksi BOLA.

Kenangan membeli tabloid BOLA adalah hal yang tak terlupakan, biasanya setiap hari Senin gue akan ke tempat kios Koran yang jaraknya sekitar 1 KM dari rumah gue, setiap pukul 4 sore dengan berjalan kaki. Biasanya kalo agen korannya telat nganterin, gue akan setia nungguin di kios itu. Ada perasaan bahagia namun akan terdengar aneh bagi awam ketika gue mencium aroma kertas Koran baru yang gue beli dengan menyisihkan uang jajan sekolah tersebut.

Biasanya BOLA akan gue letakkan di ruang tamu, tempat gue membaca. Gue akan marah kalo ada yang baca tapi bikin berantakan atau lusuh korannya. Saat akan pergi ke sekolah biasanya akan gue masukan ke dalam lemari buku, lalu dikeluarkan lagi setelah pulang sekolah. Membeli Koran hampir 2 kali seminggu selama bertahun-tahun membuat rumah gue penuh dengan Koran bekas. Biasanya Ibu gue akan menjual Koran bekas itu secara kiloan, terkadang gue gak rela, dan bahkan sampai marah kalo sampai koleksiku tau-tau hilang setelah pulang sekolah.


Kini SOCCER dan BOLA sudah tak jadi pilihan utama insan olahraga dalam mencari informasi, gue pun sudah tidak berlangganan lagi. Keterbatasan waktu, dan melimpahnya informasi olahraga hanya dengan swipe-scroll screen smartphone membuat keduanya mati pelan-pelan. Akhir kata, terimakasih BOLA dan SOCCER telah mewarnai masa-masa kecilku dengan wawasan.