Wednesday, June 1, 2016

Game Of Thrones's Ending That I Want

Tulisan ini mengandung spoiler Game of Thrones sampai dengan season 6 episode 6.

 

SPOILER ALERT!

Sudah berapa kali kira-kira Game Of Thrones mematahkan ekspektasi kita? Tak terhitung kayaknya. Semakin jauh cerita berjalan, makin ribet kisahnya, subplotnya. Daenerys Targaeryen yang tak kunjung mendarat di King’s Landing. White Walkers yang tak kunjung turun ke selatan (baca: The Wall), atau Cersei Lannister yang belum mati juga. Tapi untungnya Jon Snow bisa hidup lagi.

Seiring dengan di-overlap-nya buku A Song of Ice and Fire oleh serial televisinya. Kita semakin penasaran tentang ending apa yang pantas untuk mega seri ini. Gue punya beberapa teori.

1.      Daenerys berhasil bernegosiasi dengan Greyjoys (entah itu Euron, Theon, atau Yara) untuk meminjam armada kapal milik Greyjoy. Yang menarik adalah maukah Daenerys mengikat aliansi ini dalam bentuk pernikahan. Melihat track record Dany yang pernah rela menikahi Hizdahr Zo Loraq untuk mendatangkan kedamaian di Meereen, sepertinya kita tahu jawabnya.


2.      Tyrion Lannister mencoba berkompromi dengan perang sipil di Meereen, jadi mungkin ketika Dany menaklukan Seven Kingdoms, Tyrion akan menjadi Lord of Slaver’s Bay. Penguasa Meereen, Yunkai, dan  Astapor.

3.      Jon Snow tak bisa menghindari takdirnya untuk akhirnya berhadapan dengan Night King. Mungkin akan dibantu Uncle Benjen dan Three Eyed Raven (Bran Stark). Yang menarik adalah kemampuan melihat masa lalu yang dimiliki Bran akan mengungkap siapa orang tua dari Jon. Bagaimana dengan Ramsay Bolton? Seperti kata Sansa Stark, The North remembers. Ramsay mungkin akan mati di season 6 ini.

4.      Bila memang nanti Dany berhasil merebut King’s Landing bagaimana dengan nasib Lannister Family? Mungkin mereka akan melarikan diri, menjauh dari semburan naga.
5.      Ser Jorah Mormont akan sembuh dari penyakit Greyscale-nya. Tapi tampaknya dia tak akan bertahan lama.

6.      Bagaimana dengan Petyr Baelish, otak dari hampir semua chaos yang terjadi di Seven Kingdoms selama event Game of Thrones. Entah bagaimana caranya, Petyr tidak boleh hidup. Terlalu baik untuk membiarkan Petyr bisa tenang-tenang saja keluar dari masalah dan tak mati di akhir cerita.

7.      Dorne bergejolak, Sand Snakes menguasai Dorne. Menarik melihat Dorne membantu Dany pada invasinya ke King’s Landing. Sand Snakes akan menjadi garda terdepan, mengincar kepala anggota keluarga Lannister.

8.      Arya Stark dengan kemampuan assassin akan kembali ke Seven Kingdoms untuk melengkapi daftar incarannya. Target utama: Walder Frey. Tentunya dia harus mengalahkan The Waif dulu.


Entah  sampai season berapa seri ini akan tamat, tapi mungkin sulit membayangkan akan seperti apa hidup ini tanpa penantian akan Game of Thrones lagi.

Wednesday, November 4, 2015

Kenangan Bersama BOLA dan SOCCER

Sudah lama rasanya tidak menulis lagi untuk blog ini. Mungkin sibuk sendiri, atau mungkin memang lagi males nulis. Beberapa minggu yang lalu gue membaca tweet seorang penulis BOLA, tabloid olahraga yang dulu terbit dua minggu sekali, namun sempat berubah jadi harian. BOLA per 1 November 2015 resmi tidak menerbitkan lagi surat kabarnya dalam bentuk harian, internet dengan kejam memangkas oplah penjualannya sehingga kini BOLA hanya akan terbit seminggu sekali. Hal yang sama terjadi pada SOCCER, tabloid sepakbola yang juga lebih dulu “meniup peluit panjang” beberapa bulan yang lalu.

Kedua tabloid itu, baik BOLA maupun SOCCER sama-sama mempunyai nilai sejarah dan kenangan dalam hidup gue. Gue membaca SOCCER sejak SD sampai SMP. Bonus poster-nya jadi bahan koleksi gue, terutama kalo yang diposterkan adalah pemain-pemain AS ROMA. Bahkan jaman SMP gue sempat berjualan poster-poster dari SOCCER di sekolah, yang lucunya hasil penjualan poster gue pakai lagi buat beli SOCCER edisi selanjutnya.

Sekitar kelas 2 SMP, gue berpindah hati ke BOLA hingga masa kuliah. BOLA punya penulis-penulis yang menurut gue lebih baik dalam hal kedalaman analisa yang dipaparkan. Terkadang kolom-kolom Ian Situmorang, Weshley Hutagalung, dan Arief Kurniawan, serta favorit saya Eko Widodo adalah bacaan yang cari setiap pekannya. Hal-hal yang menarik dari tulisan BOLA adalah ketika mereka menceritakan perjalanan liputan ke luar negeri. Biasanya, gue akan belajar budaya baru dari tulisan-tulisan redaksi BOLA.

Kenangan membeli tabloid BOLA adalah hal yang tak terlupakan, biasanya setiap hari Senin gue akan ke tempat kios Koran yang jaraknya sekitar 1 KM dari rumah gue, setiap pukul 4 sore dengan berjalan kaki. Biasanya kalo agen korannya telat nganterin, gue akan setia nungguin di kios itu. Ada perasaan bahagia namun akan terdengar aneh bagi awam ketika gue mencium aroma kertas Koran baru yang gue beli dengan menyisihkan uang jajan sekolah tersebut.

Biasanya BOLA akan gue letakkan di ruang tamu, tempat gue membaca. Gue akan marah kalo ada yang baca tapi bikin berantakan atau lusuh korannya. Saat akan pergi ke sekolah biasanya akan gue masukan ke dalam lemari buku, lalu dikeluarkan lagi setelah pulang sekolah. Membeli Koran hampir 2 kali seminggu selama bertahun-tahun membuat rumah gue penuh dengan Koran bekas. Biasanya Ibu gue akan menjual Koran bekas itu secara kiloan, terkadang gue gak rela, dan bahkan sampai marah kalo sampai koleksiku tau-tau hilang setelah pulang sekolah.


Kini SOCCER dan BOLA sudah tak jadi pilihan utama insan olahraga dalam mencari informasi, gue pun sudah tidak berlangganan lagi. Keterbatasan waktu, dan melimpahnya informasi olahraga hanya dengan swipe-scroll screen smartphone membuat keduanya mati pelan-pelan. Akhir kata, terimakasih BOLA dan SOCCER telah mewarnai masa-masa kecilku dengan wawasan. 

Monday, July 6, 2015

Terus Gimana?

Kenapa manusia dikasih dua telinga? Mungkin kalo satu, jadinya gak balance. Aneh. Atau mungkin supaya kita mendengar dari dua sisi yang berbeda. Kodratnya manusia itu kalo dikasih masalah akan langsung menentukan sikap. Naluri akan selalu nge-judge. Mudah berasumsi. Padahal kalo kita mendengar masalah, itu baru satu versi. 

Gimana dengan versi yang lain, dari sudut pandang lain, dari kepentingan lain. Semua manusia akan selalu menginginkan yang terbaik bagi dirinya sendiri. Yang sering jadi masalah adalah, terkadang kita harus mengorbankan, atau paling tidak ada yang merasa dikorbankan ketika mencapai keinginan itu. Seperti karakter-karakter dalam Game Of Thrones yang punya kepentingan masing-masing. Tidak ada yang jahat, atau baik. Semuanya abu-abu.

Jadi kalo ketemu masalah, dan sudah memahami dari dua sisi, biasanya kita akan nanya balik, “Terus gimana?”

Thursday, March 19, 2015

Whiplash: Si Guru Brengsek

Terrence's twisting quote

SPOILER ALERT!!!! 

Andrew (Miles Teller) adalah pemuda ambisius yang sangat bersungguh-sungguh dengan apa yang dia tekuni. Bertekad menjadi drummer band jazz elite di universitasnya. Tangan yang berdarah, bahkan sampai putus dengan kekasihnya (Melissa Benoist) adalah bukti ambisi Andrew menyingkirkan halangan yang memisahkan antara dia dengan mimpinya.

Karakter keras ini beradu dengan Terrence (J. K. Simmons), mentor Andrew di grup band jazz ini. Perfeksionis, dan tak segan membawa-bawa masalah pribadi muridnya untuk menjadi bahan makian. Terrence tak punya limit dalam mengeksploitasi bakat muridnya, dia ingin maestro besar lahir dari tempaannya.

Inilah Whiplash, gue semula mengira bahwa ini adalah perjalanan kesuksesan Andrew yang sempat bergulat fisik dengan Terrence yang seenaknya sendiri. Bukan pula yang berakhir dengan ending manis dimana Andrew akan berterimakasih pada Terrence yang telah membuat porsi latihan pemuda 19 tahun ini jadi gila-gilaan sampai dia kemudian menjadi drummer hebat.

Masih terngiang-ngiang seringai Terrence saat “mengerjai” Andrew di panggung publik untuk menghancurkan karir Andrew selama-lamanya. Gue terhipnotis mengira Terrence adalah guru yang baik namun memakai cara yang ekstrem untuk menempa anak didiknya ketika ia berdamai dengan Andrew sesaat sebelum mengerjai si anak nekat.

Akting J.K. Simmons yang apik membuat kita seakan mau melempar benda terdekat ke layar kaca. Mungkin karena itu dia bisa menang Oscar.


Akhir kata, Whiplash adalah film yang merubah pandangan gue. Bahwa tak selamanya, guru yang keras itu baik, bisa jadi dia memang suka mengerjai muridnya.