Sunday, July 13, 2014

3:48 AM - No comments

Demokrasi, Cocok Gak Di Negara Kita?

“Demokrasi itu klenik,” – Sudjiwo Tedjo

Sumber: faktadandata.blogspot.com

Kira-kira begini penjelasan dalang nyentrik itu. Bagaimana mungkin kita mempercayakan nasib Negara kepada sekumpulan masyarakat yang rating televisi tertingginya adalah acara tak bermutu. Artinya rakyat kita belum cukup terdidik untuk dipukul rata dengan yang terdidik dalam menentukan nasib Negara.

Indonesia baru saja menyelesaikan pemilihan Presiden secara langsung untuk yang ketiga kalinya. Masyarakat Indonesia yang berjumlah lebih dari 200 juta (paling tidak itulah sensus Rhoma Irama) harus memilih antara Prabowo Subianto atau Joko Widodo untuk membenahi Ibu Pertiwi selama 5 tahun kedepan. Kisruh yang terjadi, karena kedua kubu saling menyatakan kemenangan berlandaskan Quick Count lembaga survey.

Bisa dibilang ini adalah pemilu Presiden tersengit di Republik ini. Keduanya punya massa fanatik yang jumlahnya berbeda tipis. Potensi keributan meletus setelah pengumuman resmi KPU tanggal 22 Juli nanti kini membayangi kita.

Teringat sebuah percakapan dengan seorang mantan kader partai di kantor gue beberapa waktu yang lalu. Selama ini gue beranggapan bahwa pemerintahan ala Khalifah tidak bisa diterapkan di Indonesia karena tak semua warga Negara Indonesia memeluk agama Islam. Ternyata anggapan gue salah, melalui penjelasannya gue baru tau kalo tak harus semua pemeluknya beragama Islam. Bahkan dijaman Rasullullah penduduk Madinah memiliki kepercayaan yang beragam.

Konsep demokrasi (jajak pendapat) ala Barat yang selama ini diterapkan memiliki konsep yaitu para voter harus memilih pilihan yang ada. Jika pilihan kita dinyatakan kalah voting, maka kita harus terima pilihan kita tidak dipakai. Hal ini berbeda dengan konsep Kekhalifahan yang bermusyawarah alih-alih jajak pendapat.

Contoh gini, kita menemukan sebuah masalah. Maka akan dikumpulkanlah sebuah majelis yang berisikan pemerintah, pemuka agama, ahli cendekiawan, dan perwakilan rakyat untuk duduk bersama mencari solusi. Dari forum musyawarah ini akan dihasilkan pilihan dan akhirnya keputusan yang disetujui bersama sebagai yang terbaik.

Model seperti ini sangat bagus menurut gue, karena tak akan ada oposisi yang lahir. Tak akan ada barisan sakit hati. Dan semakin sedikit pula intrik politik yang terjadi.

Satu contoh ssstem pemerintahan yang juga bagus dicontohkan oleh Negara Inggris. Inggris punya tiga elemen penting dalam pemerintahannya. Raja (saat ini Ratu), Perdana Menteri, dan pemuka agama. Raja sebagai simbol Negara yang dicintai seluruh rakyatnya. Perdana Menteri yang mengurusi langsung pemerintahan. Dan pemuka agama, dalam hal ini Paus yang dihormati. Ketiganya akan saling bekerja sama dalam sebuah keputusan yang akan diambil Negara. Indah, bukan?

Kita selalu bangga akan demokrasi yang dijalankan di Negara kita. Selama ini kita percaya demokrasi itu baik, karena kita ditanamkan ide bahwa demokrasi adalah yang paling benar bahkan sejak kita masih SD. Padahal, demokrasi sebenarnya tak cocok dengan Negara kita. Terlebih, sila keempat berbunyi, “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan, dalam permusyawaratan perwakilan.” Ingat, permusyawaratan, bukan jajak pendapat.


»»  Selanjutnya...

Sunday, June 22, 2014

3:18 AM - No comments

Mengapa Jokowi

Dulu gue adalah bagian pemuda-pemuda skeptis di Indonesia. Gue gak pernah percaya dengan politik, baik itu sistemnya, ataupun orang yang terlibat di dalamnya. Korupsi, main kotor, dan sebagainya membuat gue dulu percaya biarlah politik jadi mainan orang yang gak punya keterampilan di luar sana.

Tapi seiring waktu muncullah karakter-karakter politik yang seperti jadi The Avengers di dunia pengambil kebijakan ini. Sebut saja, Ahok, Ibu Risma, Ridwan Kamil, atau Jokowi. Mereka tak hanya merebut suara konstituennya, tapi juga merebut hatinya.

Dalam bukunya Berani Mengubah, Pandji Pragiwaksono mengungkapkan pentingnya politik bagi kehidupan kita. Jika disalagunakan, politik akan sangat berpengaruh pada kehidupan kita, secara langsung bahkan. Bagaimana jika sektor sepenting ini malah dimainkan oleh orang-orang jahat.

Gue termasuk orang yang mendukung Anies Baswedan untuk maju sebagai Presiden di konvensi Partai Demokrat kemarin. Pak Anies memang adalah seorang rektor, yang pemikirannya masih muda dan sangat kritis. Dalam debat konvensi, jawaban-jawabannya terbukti cerdas dibanding kandidat lainnya.


Sekarang kita dihadapkan pada dua pilihan, Jokowi atau Prabowo. Saya dengan lantang menyebut Jokowi. Bukan karena ia hobi blusukan, merakyat, sederhana atau lainnya. Tapi karena ketika gue memilihnya, gue gak pernah punya beban moral. Gue gak takut ditanya tentang masa lalu jagoan gue.



»»  Selanjutnya...

Thursday, June 5, 2014

6:59 AM - No comments

Ketiduran

Ternyata kerja itu capek ya. Pergi pagi pulang sore, begitu terus setiap hari. Beda dengan kuliah, biar pergi pagi pulang sore juga, tapi suasananya beda. Ada banyak temen yang bisa di-bully disana, jadi gak ngebosenin. Kalo tempat kerja, kan lebih tua semua tuh, gue digampar kalo ngebully orang tua.


Gue ngerasa waktu berputar cepet banget. 24 jam sehari rasanya kurang. Rotasi bumi gak bisa dilambatin ya? Jadi 30 jam kek, kan lumayan. Pulang kerja gue sering kecapekan, hal ini berimbas ke dunia asmara. Iya, gue sering ketiduran dan ninggalin doi tanpa peringatan (baca: good night). Sebenernya bukan ketiduran, gue tau gue udah ngantuk, tapi gak enak mau bilang “Good Night” di saat jarum jam masih menujukkan pukul 21.00. Ya, akhirnya gue paksain dan akhirnya ketiduran.

Ketiduran itu berefek keesokan harinya, akan ada kejutekan menghampiri anda. Shit, hidup gue gini banget. Siklusnya kecapekan-ketiduran-dijutekin-kecapekan-dan seterusnya sampe berlama-lama kemudian. Gue jadi mikir, ketiduran bahasa Inggrisnya apa ya? Sleep: tidur, Sleepy: ngantuk, Fall asleep: tertidur. Ketiduran apa? Apa mungkin orang Inggris gak pernah ketiduran ya.


Apa obat supaya gak ketiduran? Minum kopi, tapi kalo gue begadang tar dimarah Bang Haji dan gue jadi zombie di kantor. Hidup memang penuh dengan konflik. Jadi sebenernya, yang lebih capek itu yang mana. Kerja, gak kerja, atau pura-pura kerja?
»»  Selanjutnya...

Sunday, May 25, 2014

3:16 AM - No comments

WC Jongkok Vs. WC Duduk

Wah, udah lama ga ngeblog nih. Maklum lagi sibuk kampanye pilpres. Hehehe. Oh, iya kali ini gue gak mau posting yang serius2. Gue Cuma mau menceritakan observasi gue beberapa bulan ini.



Begini ceritanya, selama tiga bulan gue menghabiskan malam di hotel ,dikarantina. Bukan, gue bukan finalis Indonesian Idol. Gue ikut training kerja di sebuah perusahaan yang cukup ternama, ceilah.

Selama di hotel kalian taulah WC-nya pasti toiletnya pake toilet duduk. Gue merindukan WC jongkok untuk waktu yang lama. Ada seni tersendiri ketika kita berimajinasi sambil jongkok. Ada beberapa kelebihan WC jongkok disbanding WC duduk yang selama tiga bulan ini gue teliti.

1.      Harus berkali-kali
Ini fakta, dengan memakai WC jongkok, di pagi hari gue hanya butuh sekali boker. Sedangkan dengan memakai WC duduk, harus 2-3 kali. Kenapa ya kira-kira, mungkin karena ada energi potensial yang hilang ketika kita duduk. Jangkrik, gue udah kayak pakar fisika.

2.      Kesemutan
Sering banget gue mengalami kesemutan saat boker di WC duduk. Sedangkan di WC jongkok ini jarang terjadi. Ada apa ini? Mungkin peredaran darah ada yang tersumbat ketika boker di WC duduk. Atau mungkin juga, WC jongkok lebih menyehatkan secara peredaran darah.

3.      Olahraga
Ketika boker di WC jongkok, secara tak langsung kita sedang melaksanakan Scot Jump. Anjrit, sembari boker kita bisa menguatkan otot-otot di sekitar paha dan kaki. Di WC duduk? Gak ada olahraganya sama sekali, kurang menantang, tubuh terlalu dimanjakan.


Jelas sudah WC jongkok lebih baik dari WC duduk. Atau mungkin suatu saat gue akan menciptakan WC berdiri?
»»  Selanjutnya...

Wednesday, April 30, 2014

5:03 AM - No comments

Ayam atau Telur Dulu? (Mystery Solved)

Mana yang duluan ayam atau telur? Ini pertanyaan gak bakal ada habisnya ditanya orang-orang. Banyak jawaban lucu-lucuan, mulai dari yang jawab ayam karena berdasarkan urutan alfabet, atau yang jawab ayam karena katanya pas jaman Nabi Nuh, yang dibawa ke bahtera raksasa adalah sepasang ayam bukan sepasang telur.


Sebenarnya tak ada cara lain yang lebih bisa diterima selain kita memakai sains sebagai jawaban. Mari kita bagi ke dalam dua kubu yang berseberangan pendapat.

Team Chicken

Yang berkeyakinan bahwa ayam ada lebih dulu dari telur melandasi argumennya pada protein pembentuk telur ayam yang dinamai OV-17 yang hanya ada di dalam ovarium ayam. Dengan demikian tak akan ada telur jika tak ada ayam. Protein ini berfungsi sebagai pelapis kulit telur. Tapi hal ini bisa disangkal dengan mudah oleh team egg yang beralasan ayam pertama lahir dari proses pecah telur, bukan beranak.

Team Egg

Tim pendukung telur percaya bahwa jawabannya terletak pada mutasi genetis. Telur ayam pertama berasal dari induk yang bukanlah seperti ayam seperti saat ini (ayam modern). Induk ayam pertama bernama Ayam Proto. Team Chicken gak mau kalah dengan menyebut telur ayam pertama itu sebagai telur ayam proto, bukanlah telur ayam modern.

Dua Skenario

Dengan demikian kita punya dua skenario paling masuk akal.

1. Ayam proto bertelur menghasilkan telur ayam proto, telur ini lalu bermutasi dan menetaskan ayam pertama. Berarti ayam lebih dulu dari telur.

Skenario 1
  2. Ayam proto bertelur menghasilkan telur ayam, telur inilah yang menghasilkan ayam pertama. Berarti telur lebih dulu dari ayam.

Skenario 2

 Jadi masalahnya terletak pada, mau kita namai apa telur pertama ini? Telur Ayam Proto atau telur ayam? Tetapi mau kita namai apapun telur itu, kita tetap bisa menyebut telurlah yang pertama ada.




Sumber gambar: ASAPScience

»»  Selanjutnya...

Thursday, April 17, 2014

6:13 AM - No comments

Cinta Budi dan Ginjalnya (Sebuah Cerpen)

Oleh: Allan Cipta

Koran pagi dilempar di depan rumah komplek perumahan mewah. Budi sang loper koran sambil memacu sepeda sudah sering dikejar anjing penjaga rumah, dia sudah 3 kali disuntik rabies akibat infeksi digigit anjing galak.

Budi berperawakan kurus tinggi namun tergolong lumayan tampan dari segi wajah karena Ayahnya adalah mantan cover boy majalah Trubus, namun nasib membawa keluarganya pada kebangkrutan. Kebangkrutan ini terjadi karena ibunya terlalu sering berjudi Poker di Facebook.

Budi putus sekolah saat SMA kelas 1, dan sekarang hanya menjadi loper koran. Budi ngekos di ibukota, sambil sesekali mengirim uang pada orang tuanya di kampung.

Seperti pagi-pagi biasanya, Budi kembali “berdinas”, namun kali ini dia merasa sedikit lelah dan memutuskan istirahat di terminal bus antar kota. Kerongkongannya terasa haus karena air kendi di kamar kosnya habis dan tak sempat memasak air karena gas elpijinya juga sedang habis.

Budi lalu masuk ke warteg “Bahagia”.

“Es jeruk satu, Bu!” ucap Budi sambil mengambil simpanan uang yang ada di kantong kecil di kalungnya yang berbentuk seperti jimat di film-film Suzana.

“Ini mas es jeruknya,” ucap gadis bersenyum Pepsodent sambil meletakkan gelas ke depan meja.
Budi terpana…

Tiba-tiba ada lagu “Ada Cinta” milik Smash melantun. Budi semakin melayang jatuh cinta pada pandangan pertama. Ternyata lagu tadi hanyalah ringtone tukang bangunan yang sedang makan pisang goreng di warteg itu.

Tangan Budi merayapi gelas es jeruk yang ada di depannya, matanya tak lepas dari gadis penjaga warteg. Budi menyembur kepanasan, rupanya tanpa sengaja tangannya mengantarkan kopi panas milik sopir angkot yang duduk di sebelahnya ke mulutnya.

Sejak saat itu, Budi jadi jatuh hati pada si gadis penjaga warteg. Setiap hari, Budi menebar modus dengan mampir ke warteg “Bahagia”. Budi memberanikan diri untuk memperkenalkan diri, dan ternyata disambut hangat oleh gadis yang ternyata bernama Susi itu.

Budi dan Susi semakin akrab, mereka berdua sering nongkrong setiap malam minggu di taman kota. Setiap habis memegang tangan Susi, Budi tak mencuci tangannya untuk seminggu ke depan. Budi bahkan rela cebok dengan hanya satu tangan, agar tangan satunya tetap harum tangan Susi.

Cinta membawa efek positif. Budi semakin rajin bekerja, loper koran yang biasanya memakan waktu 3 jam kini bisa diselesaikan 15 menit saja. Budi memacu sepedanya seperti kecepatan peluru, karena makin cepat ia selesai bekerja, makin panjang juga waktunya berkencan bersama Susi.

Kedua insan semakin dimabuk cinta, setiap hari Budi mengirimi Susi puisi. Beberapa kali puisi ini dikirim Susi ke majalah Gaul, dan beberapa kali juga dimuat di majalah itu. Susi mendapat banyak hadiah dari puisi Budi yang ia kirim ke redaksi berbagai majalah.

Sore itu Budi dan Susi sedang mojok di bawah pohon di taman kota. Keduanya baru saja berkeliling kota dengan sepeda tua Budi, walaupun sempat putus rantai 13 kali, namun keduanya tetap bahagia.

“Mas, maaf ya sebelumnya, tapi aku mau ngomong ni.” Ucap Susi sambil mengulum bibir sok manis

“ya ngomong aja dek.” Budi menjawab sambil mengerutkan dahi ala SBY.

“eh gini, keluargaku ditawari pemerintah untuk ditransmigrasi ke Sorong”

“Hah?” Budi ternganga

“Iya, disana kami mau dikasih ladang gandum 2 hektar dan dijanjikan kehidupan yang lebih layak daripada disini.”

Mendengar itu, Budi jadi murung dan merasa tak siap berpisah dengan Susi, cinta pertamanya. Susi akhirnya pergi meninggalkan Budi dan hanya menitipkan alamat barunya di Sorong. Budi terpukul karena ini.

Budi jadi jarang makan karena rindunya semakin bertumpuk pada Susi. Pekerjaan loper korannya semakin terlantar dan sepeda kesayangannya sudah diselimuti sarang lebah yang sudah bisa dipanen madunya.

Suatu pagi, Budi kedatangan surat yang ternyata dari Susi. Saking bahagianya, Budi mencium tukang pos yang langsung dibalas tabokan si tukang pos, dengan penuh sukacita Budi membuka amplop surat itu.

“Mas, ternyata pemerintah bohong. kami tidak diberi ladang gandum yang seperti mereka janjiin. Tapi tenang, kami akhirnya bisa tetap melanjutkan hidup. Ada juragan angkot di Sorong yang mau menikahi aku. Katanya mau ngejadiin aku istri keempatnya. Maaf ya mas, sebaiknya kita lupain aja cinta kita. Kami akan menikah seminggu lagi. Susi.”

Deeer… Budi lunglai dan surat Susi jatuh dari tangannya. Tiba-tiba ada hujan membasahi kepalanya. Budi makin mellow, rupanya itu adalah air bekas cucian baju yang dijatuhkan tetangganya dari lantai 2.

Budi semakin tenggelam dalam keputusasaan. Pernah ia mencoba bunuh diri dengan cara merokok di samping tabung gas elpiji, namun ternyata tabung itu sudah kosong karena Budi sudah tak pernah lagi mengurusi dapur rumahnya. Ibu kos sudah menempelkan papan “Disewakan Kos” di depan kamar Budi yang sudah ditunggak 2 bulan.

Tiga hari jelang pernikahan Susi, Budi yang makin kurus tak sengaja menonton Kuch Kuch Hota Hai yang sedang ditonton tetangganya. Melihat Shahrukh Khan yang bisa bersatu dengan Kajol walau banyak rintangan, Budi jadi terinspirasi dan timbul ide untuk menyusul Susi ke Sorong. Budi langsung berlari ke pasar loak untuk menjual sepedanya. Budi mencari ongkos, namun uang jual sepeda hanyalah 35.000 Rupiah. Setidaknya butuh 1.965.000 Rupiah lagi agar bisa sampai ke Sorong.

Budi pun akhirnya menjual ginjalnya. Tertinggal waktu sehari lagi. Namun ia akhirnya bisa berangkat. Malang bagi Budi, ketika transit di Makassar, pesawatnya mengalami delay sehari. Budi menginap di bandara, dan hanya makan seadanya.

Tibalah Budi di Sorong. Dengan bekal alamat dari Susi yang diberikan tempo hari, Budi masih berharap. Sesampainya disana, janur kuning sudah melengkung, pelaminan sudah dibongkar, meja pesta sudah habis makanannya, dan ranjang sudah berderit. Budi terlambat, Susi dan si juragan angkot sudah berbulan madu ke Monas.

The End
»»  Selanjutnya...